Monday, March 10, 2014

Majemuk

Dulu, semua berjalan dengan jarak
Saling mencipta skala yang disebut antara
Dalam ucapan hanya ada "-ku" dan "-mu"

Lalu, detak waktu mengubah segalanya
Menyatukan yang terbagi menjadi "kita"



Maret 2014

Hilang

Pukul dua pagi, lelaki itu terbangun dengan degap
Bukan karena mimpi buruk menyergap
Bukan pula karena bunyi weker yang akrab
Entah karena apa sebab, mungkin suhu udara yang biadab

Di meja kamarnya ada setumpuk kitab
Berbab-bab paragraf dan abjad
Juga bilangan nominal yang harus dihisab
Kesemuanya harus segera direhab

Lalu dilihatnya layar telepon menampilkan lima panggilan tak terjawab
Ia tergagap

***

Perempuan itu menyandarkan diri ke kursi
Di hadapannya meja berlaci
Dan sebuah cermin yang merefleksikan ilusi diri
Lalu diambilnya sebuah buku diari

Ia mencurahkan atensi
Pada lembaran tempat segala emosi
Tentu saja, menulis di pagi hari adalah tradisi
Ini semacam jenis kontemplasi

Dimana ia bebas merumuskan segala asumsi
Meskipun esok hari, ia tak akan pernah bisa memprediksi

***

Pada pukul dua pagi
Aku dan kau rutin hidup dalam ilusi

Dan saling menyesali apa yang pergi
Serangkai komunikasi; dan nilai yang teregresi



Maret 2014

Friday, January 10, 2014

Amorfati

Ditulis pada malam puncak penasbihan
Kami lahirkan kombatan dari rahim pemberontakan
Dalam ruang kesimpulan tentang makna seribu pengabdian
Yang kalian rumuskan pemutlakan atas dasar kepentingan

Bersama rancangan yang kalian pajang
Dan legitimasi penghakiman stempel pembangkang
Kami jawab semua tantangan kutukanmu yang berpantang
Serupa pembayaran lunas seluruh tagihan hutang

Kami tepis semua justifikasi yang berasal dari taklid basi
Yang terjebak dalam lingkaran labirin persepsi
Semua spekulasi kalian yang mempersuasi
Dengan sejuta pretensi harap surgawi

Kami rekonstruksi definisi Alwasi tanpa tendensi
Tak pula butuh pengakuan cap akreditasi
Hingga semua makna hirarki sejati
Bermanifestasi menjadi IaNya yang hakiki



Januari 2014

Thursday, December 12, 2013

Obituari Hati

Malam ini aku datang
Kamar mu lengang
Tampak kau tertidur tenang
Tak ada kopi selamat datang?

Biarlah, kau tidur saja dalam pasrah
Meninggalkanku yang terpojok dalam ruang gelisah
Yang bermula hendak mengantar curahan resah
Dan menumpah gundah yang kian membuncah

Malam ini aku datang
Hanya sekedar duduk lancang
Memandang bulan di kursi teras belakang
Bersama bayang kenangan yang perlahan hilang

Kau masih tetap bermimpi indah
Sedang aku diam saja menengadah
Mendengar air sungai yang menceracah
Melupakan seonggok mayat basah di dalam rumah



Desember 2013

Apologia Dini Hari

Aku tahu engkau marah
Menahan serapah menyambutku di ujung pintu rumah
Namun tidakkah kau dapat bermurah?
Pada lelaki yang tak tahu kemana kan melangkah

Malam merekah, mari kita ulangi kaji
Apa-apa yang menjadi pertanyaan hati
Dilengkapi, secawan kopi yang siap berbagi
Apa lagi yang patut kita ingkari?

Kini, ku pinta kau perjelas segala kias
Sebelum mentari hadir dengan pagi menetas
Aku takut tautan waktu yang ku punya terlanjur meretas
Dan rotasi jarum pun kian lekas melintas

Selintas, kau mulai mengerutkan dahi
"Biar kuluruskan persoalan hakiki!"
Kau mulai diskusi dengan semburan aksi
Aku bereaksi dengan asap meninggi

Perlahan kopi, tereduksi seluruh gelas
Aku siap bergegas;
Tak perlu ada kesimpulan penjelas
Karena rutinitas, pesan mu tak pernah membekas



Desember 2013