Tuesday, December 8, 2015

Antara Pagi dan Malam

 
"Hujan pagi ini adalah rinduku; yang menguap sejak kemarin, kemarin, kemarin. Berkondensasi hingga jenuh kemudian luruh"

***
"Dan aroma tanah basah malam ini adalah syukurku; yang pada masa kegersangan kemarin setia menanti rindumu sebagai hujan di awal Desember. Menyambut kabar keberadaan dan lalu menumbuh-suburkan harapan"

Wednesday, September 2, 2015

Aku Menitipkanmu KepadaNya

Aku menitipkanmu kepadaNya,
seperti isyarat yang pernah kutitipkan kepadamu
Seperti hal keduanya,
adalah harapku utuh terjaga untukku

Meski tak dapat kupaksa kehendak takdir,
tetapi keyakinan adalah penawar ragu yang menggetir
Maka biarlah luruh kemana Ia menuntun,
serupa hanyutnya angin yang menerbangkan daun

Sang darwis pernah berucap, “tak akan sampai kelak,
dua insan dijurangi jarak”
Karena rindu tak melulu soal menunggu,
tetapi setia menjaga untuk menyatu

Mungkin kau juga tahu, “mencintai itu luka,
merindu itu perihnya”
Tetapi sebagaimana rindu meneguhkan cinta,
begitu pula waktu menyembuhkan luka



2 September 2015

Pulang


Akhirnya, daun yang bertuliskan namanya itu menguning, merapuh
Kemudian perlahan-lahan jatuh; dari pohon itu, yang konon berada di langit ketujuh
Tepat ketika ia duduk bersimpuh
Dan lalu, keningnya menyentuh tanah berpeluh
Dalam sujud penuh kerendahan, yang melumat segala angkuh

Akan kuceritakan perihal ia yang menggebu merindu Sang Kekasih
Bahwa telah lama ia terpaut kerinduan yang memanggil
Dan oleh karenanya, selama ini, ia berjalan menuju rumah Sang Pujaan
Untuk dapat bersua dan melepas duka
Agar bisa mengadukan luka; memeluk cinta

Walau begitu, langkahnya tak pelak bernestapa dalam derita,
Perjalanan mencari di berbagai sudut persimpangan
Yang akan mengantarkan entah kemana

Kadangkala dilihatnya serumpun bakung menggoda;
dalam kumpulan kembang setaman,
mata air dan fatamorgana

Akan tetapi, hasrat rindu tak hendak menunggu lama,
Sang Kekasih pun terus saja memanggil-manggil nama
Meski harus ia menelan pahit prahara;
Gunung air mata dan badai bencana
Tentu saja, cinta memang harus diuji kesetiaannya!

Dan maka, suatu ketika; pada jingga sepotong senja
Tiba ia di rumah Kekasih dipuja
Suka citalah ia, menarilah ia; sekedar melepas dahaga

Sampai kemudian, tenang dirinya, tercengang ia dalam tanya
Seolah ada yang terlupa, tersadar; dan tak asing dikenalinya
Bahwa, selama ini ia hanya mencari-cari rumahnya saja



24 Agustus 2015

Friday, May 8, 2015

Batu Sisifus

Aku hafal betul bagaimana kesumatmu menjelma menjadi laknat
Katamu, dalam bait-bait penghujung kalimat;
Jiwa yang berontak adalah pengkhianat baiat, serupa ketakaburan Azazil menolak taat

Itu setelah kau berpanjang-lebar tentang kemurnian hakikat
Di antara malam, hujan dan keheningan berkarat,
Bisik-bisik yang melayang perkara kiamat; terlontar sebagai jejadian filsafat

Aku yang tak pernah cukup mengerti tentang alegori dogmatik
Atas kalam puitik yang kau hakimi dengan pembenaran semantik
Engkau bertitah harus, menjadikan semua warisan Ikarus menjelma petuah aksiomatik

Lupakan Zarathustra, ketika kata tak mampu lagi merepresentasikan makna dalam detik
Ketika estetika bahasa hanyalah interpretasi pragmatik
Demi anggur Dionysian yang kita tenggak di penghabisan kesimpulan dialektik;

Aku menyerah atas nubuat yang kau plagiat,
Bersimpuh membayar upeti untuk jiwa yang tersesat



Mei 2015