Wednesday, September 2, 2015

Pulang


Akhirnya, daun yang bertuliskan namanya itu menguning, merapuh
Kemudian perlahan-lahan jatuh; dari pohon itu, yang konon berada di langit ketujuh
Tepat ketika ia duduk bersimpuh
Dan lalu, keningnya menyentuh tanah berpeluh
Dalam sujud penuh kerendahan, yang melumat segala angkuh

Akan kuceritakan perihal ia yang menggebu merindu Sang Kekasih
Bahwa telah lama ia terpaut kerinduan yang memanggil
Dan oleh karenanya, selama ini, ia berjalan menuju rumah Sang Pujaan
Untuk dapat bersua dan melepas duka
Agar bisa mengadukan luka; memeluk cinta

Walau begitu, langkahnya tak pelak bernestapa dalam derita,
Perjalanan mencari di berbagai sudut persimpangan
Yang akan mengantarkan entah kemana

Kadangkala dilihatnya serumpun bakung menggoda;
dalam kumpulan kembang setaman,
mata air dan fatamorgana

Akan tetapi, hasrat rindu tak hendak menunggu lama,
Sang Kekasih pun terus saja memanggil-manggil nama
Meski harus ia menelan pahit prahara;
Gunung air mata dan badai bencana
Tentu saja, cinta memang harus diuji kesetiaannya!

Dan maka, suatu ketika; pada jingga sepotong senja
Tiba ia di rumah Kekasih dipuja
Suka citalah ia, menarilah ia; sekedar melepas dahaga

Sampai kemudian, tenang dirinya, tercengang ia dalam tanya
Seolah ada yang terlupa, tersadar; dan tak asing dikenalinya
Bahwa, selama ini ia hanya mencari-cari rumahnya saja



24 Agustus 2015

Friday, May 8, 2015

Batu Sisifus

Aku hafal betul bagaimana kesumatmu menjelma menjadi laknat
Katamu, dalam bait-bait penghujung kalimat;
Jiwa yang berontak adalah pengkhianat baiat, serupa ketakaburan Azazil menolak taat

Itu setelah kau berpanjang-lebar tentang kemurnian hakikat
Di antara malam, hujan dan keheningan berkarat,
Bisik-bisik yang melayang perkara kiamat; terlontar sebagai jejadian filsafat

Aku yang tak pernah cukup mengerti tentang alegori dogmatik
Atas kalam puitik yang kau hakimi dengan pembenaran semantik
Engkau bertitah harus, menjadikan semua warisan Ikarus menjelma petuah aksiomatik

Lupakan Zarathustra, ketika kata tak mampu lagi merepresentasikan makna dalam detik
Ketika estetika bahasa hanyalah interpretasi pragmatik
Demi anggur Dionysian yang kita tenggak di penghabisan kesimpulan dialektik;

Aku menyerah atas nubuat yang kau plagiat,
Bersimpuh membayar upeti untuk jiwa yang tersesat



Mei 2015

Monday, March 10, 2014

Masa Menyenangkan itu Bernama Kenangan



Dua minggu yang lalu saya dan seorang kawan melakukan perjalanan impulsif. Saking impulsifnya bahkan dengan tanpa persiapan dan perencanaan spesifik. Melalui jalur darat, perjalanan dari Lampung menuju Kediri memakan waktu yang cukup lama. Meski tujuan jelas, tetapi akan menjadi merepotkan jika tanpa konsep terencana ala manusia modern bernama itinerary.  Dan karena minim informasi sekaligus serba mendadak, kami sukses tertimpa serangkaian peristiwa semi krusial di jalan.

Inisiatif semula hanyalah mengisi waktu liburan, dan setelah berbagai macam diskusi maka dipilihlah Kampung Inggris sebagi destinasi. Setelah melewati serangkaian peristiwa melelahkan, pada minggu pagi kami sampai di office Mr.Bob Pare, Kediri.

Dulu, saya ingat saat pertama kali mendengar tentang Kampung Inggris, hal pertama yang terbayang adalah sebuah desa (dalam arti harfiah) sebagai sebuah area pengembangan kursus bahasa Inggris dengan keindahan alam yang memiliki banyak pengunjung dimana mereka akan berbicara berbahasa Inggris dimana pun.

Tetapi ternyata ekspektasi saya salah, tidak ada bukit-bukit dan sungai yang mengalir disana. Tetapi sepenuhnya tidak mengecewakan, justru Kampung Inggris menyuguhkan hal yang berbeda. Kampung Inggris memiliki lingkungan yang baik. Tempat yang tepat--dengan segala akses dan fasilitasnya, untuk meningkatkan keterampilan berbahasa. Dan tentu saja, berlibur di sana memiliki banyak manfaat dari segi kompetensi dan pergaulan. Karena kalian akan berada dalam sebuah komunitas yang memiliki motivasi yang sama, belajar! Selain itu, bertemu kawan-kawan baru –dari latar belakang berbeda, adalah bonus.

Jika dilihat secara administratif, Kampung Inggris terletak di kecamatan Pare dengan beberapa desa yang berpotensi sebagai area pengembangan kursus Bahasa Inggris, terutama Desa Pelem dan Tulungrejo. Selanjutnya, orang-orang menyebut Kampung Inggris untuk merujuk kepada Pare. Dan sebagai efek dari pengembangan bimbingan belajar ini, banyak bermunculan tempat penginapan dan kost yang menampung pelajar dengan harga yang bervariasi.

“Spesialis terapi ngomong Inggris + pendongkrak PD”
Begitulah bunyi kalimat yang terbaca di poster saat pertama kali saya sampai di office Mr.Bob. Beruntung, kami sampai di waktu yang tepat. Tidak perlu waktu lama untuk melakukan registrasi. Dengan ramah, Mas Agung melayani calon member yang mengantri serta memberikan informasi dan rekomendasi tentang penyewaan fasilitas yang baik disana.

Kami tinggal di camp 4. Sebuah camp yang terluas disitu, dan dihuni oleh sebanyak 20 orang member yang berasal dari daerah yang berbeda-beda. Semuanya bersahabat. Kompak. Di waktu senggang kami sering melewati waktu bersama di camp. Dan kekeluargaan pun tumbuh.

Hari pertama di Kampung Inggris, dimulai dengan bertemu sahabat-sahabat baru di kelas dan belajar dengan cara yang menyenangkan. Mr.Bob memiliki metode belajar yang fun, rileks, dan tetap fokus. Kami sering melakukan game-game seru yang mengasah imajinasi dan kreativitas.

Selain program utama berdasarkan paket yang kita pilih, ada 2 program harian bernama; morning class dan night class. Pada morning class kita dilatih untuk menulis diari berbahasa Inggris secara konsisten setiap paginya. Program ini berfungsi untuk menstimulasi kemampuan linguistik kita dalam mengkomunikasikan sesuatu ke dalam tulisan. Selain itu, tentu saja untuk memperbaiki kemampuan grammar dan diksi dalam kepenulisan. Sementara di night class, kita akan ditantang untuk percaya diri untuk public sharing di depan umum. Topik yang ingin dibicarakan tidak dibatasi, asalkan berbahasa Inggris.

Beberapa momen berkesan yang saya alami adalah di kelas. Saya ingat ketika berada di kelas Speak Up 2. Sista, (tutor kami) sering membuat game yang selalu berhubungan dengan motivasi hidup. Disana saya belajar banyak. Belajar untuk merumuskan mimpi. Belajar menata mimpi lebih spesifik. Dan berani menulis dan menceritakannya kepada kawan-kawan sekelas (dengan berbahasa Inggris). Dan kami mengapresiasi satu sama lain. Bahkan mungkin seaneh apapun mimpi kita. Walau mungkin terdengar tidak realistis. Tetapi bukankan mimpi pada awalnya adalah hal yang asing bagi kenyataan, sama seperti Wright Brothers yang bermimpi menciptakan sebuah mesin yang dapat membawa manusia terbang bebas di angkasa bernama pesawat terbang? Maka kami belajar untuk berani memimpikannya. Sista telah mengajarkan kami untuk berani bermimpi setinggi langit.

For the words, impression, memories, and all the things that we have been through, thank you lovely!

Pecahan Memori

Pada akhirnya setiap momen hanya akan menjadi memori masa lalu. Se-emosional apapun masa lalu dikenang, ingatan tetap tidak akan mengembalikan waktu-waktu yang hilang.

Rotasi bumi menuju tengah malam. Kami duduk di pojokan taman kota. Menikmati kopi panas dan berbincang banyak hal. Walaupun cuaca di bulan-bulan penghujan malam ini lebih memberikan kesan kesenduan dari pada waktu yang tepat untuk berkumpul. Tetapi saya betah berlama-lama duduk. Entah apa yang kami rayakan. Mungkin kebersamaan selagi kami masih saling mengenal. Aktivitas seperti ini mengingatkan saya pada Stasiun Tugu, Malioboro, Jembatan Kali code dan seluruh pojokan Jogja bagian mana pun yang pernah kami singgahi berikut dengan seluruh pernak-pernik dan suasana artifisial keramaian malam. Momen serupa. Duduk-duduk. Menyapa hedonisme malam dan memperbincangkan banyak hal dari sudut pandang tidak biasa. Saya, dan beberapa kawan waktu itu yang entah bagaimana mereka sekarang. Ya, entah bagaimana mereka sekarang.

Saya sepakat kata-kata seseorang yang saya kenal, “ada yang penting sekaligus mubazir dalam hal mengenang waktu”. Kemubaziran yang adil ketika kita menyadari bahwa hidup sesungguhnya hanyalah sekedar “numpang lewat”.  Terdengar absurd. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Perjalanan hidup merelokasi kita dari setiap episode kehidupan ke episode selanjutnya. Waktu berlalu, episode berganti dan mengubah setiap orang yang ditemui menjadi orang lain kembali setelah sebelumnya saling mulai mengenal sebagai orang lain. Waktu mempertemukan wajah-wajah asing, ide-ide asing, emosi yang asing untuk kemudian melupakannya sebagai sesuatu yang akan menjadi asing bagi kehidupan selanjutnya.

Seperti banyak hal di muka bumi ini, kelak tak lagi sama. Meregresi nilai-nilai yang pernah memiliki romantismenya sendiri. Entah ini sebuah fase atau memang manusia ditakdirkan untuk memiliki sebuah kehilangan. Kehilangan berbagai macam jenis romantika bahkan momen heroik yang seiring pertukaran posisi matahari dan gulita selalu melahirkan romantika baru sekaligus kehilangan yang baru.

Maka sebelum semua itu terjadi, kami hanya harus bersandiwara menghayati momen ini. Tak perlu sedalam-dalamnya, hanya sesederhana mungkin. Berusaha meninggalkan kesan yang cukup layak untuk diingat dan berpura-pura menerima. Walau toh pada akhirnya, kami hanya akan menjadi orang lain.

Suatu saat orientasi hidup hanya akan menciptakan jarak. Dan melumat segala kesah malam ini.

Jari Yang Menunjuk Ke Bulan

Ada sebuah analogi tentang jari yang menunjuk ke bulan. Mereka mencari keindahan. Keindahan sesungguhnya adalah bulan itu sendiri, jari hanyalah apa yang disebut sebagai "petunjuk kepadanya".

Tetapi manusia kadang malah cenderung terkonsentrasi pada jari yang menunjuk ke bulan. Mengaguminya, memujanya, bahkan menyembahnya dengan memakaikan cincin dan aneka perhiasan. Kekaguman ini berubah menjadi kebutaan.

Suatu kali ketika langit menjadi gelap, sangat gelap, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih gelap, semua jari serentak menunjuk ke arah yang berbeda-beda.